Kehadiran anak merupakan dambaan setiap pasangan yang merajut cinta lewat institusi perkawinan. Anak akan memberikan warna indah kehidupan kepada orang tuanya. Bahkan, dalam situasi lelah, keberadaan anak tanpa disadari akan menghapus setiap jejak langkah lelah itu.

Dengan begitu besarnya anugerah anak yang Allah berikan, harus disadari oleh orang tuanya untuk memastikan kehadiran kebahagiaan dalam diri anak-anak tersebut. Namun, tidak jarang kebahagiaan yang sejatinya menjadi hak mereka justru tercerabut. Salah satu keadaannya, karena kedua orang tuanya bercerai.

MEDIASI GUGATAN HAK ASUH ANAK

Dalam situasi ini, tentu anak menjadi korban. Mereka diperebutkan. Tak ubahnya dalam perkara gugatan hak asuh anak yang terdaftar di Pengadilan Agama Sibuhuan Nomor 254/Pdt.G/2021/PA.Sbh.

Saat agenda mediasi, Mediator Hakim, Bainar Ritonga, S.Ag., M.H. yang juga Wakil Ketua PA Sibuhuan, awalnya baik Penggugat maupun Tergugat bersikukuh dan berdiri di atas argumentasinya masing-masing.

Namun, perlahan dan dengan sabar, Mediator berusaha memberikan pandangan perihal tanggung jawab orang tua terhadap anak, sekalipun keduanya telah bercerai. Dikemas dengan edukasi hukum, akhirnya Penggugat dan Tergugat sepakat untuk tidak memperebutkan anak-anak hasil buah cinta mereka.